Gedung Rektorat, ITS Online – Salah satu keynote speaker, Dirjen Bidang Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah BPN, menjelaskan tentang kesiapan yang dilakukan oleh BPN dalam menyambut Kadaster 2014. Berbagai persiapan telah disiapkan BPN seperti restrukturasi organisasi. Hal ini membuat BPN mengalami kemajuan dalam segi pelayanan. “Bahkan telah dibentuk pula layanan keliling untuk masyarakat,” ungkap Firmansyah.

Acara yang dirancang untuk mengupas permasalahan kadaster yang terjadi di masyarakat ini disambut antusias oleh para peserta. Peserta pun tak tanggung-tanggung menanyakan tentang waktu yang lama dan birokrasi yang berbelit-belit dalam mengurus kadaster. Firmansyah pun mengungkapkan tentang adanya transparasi dalam setiap kadaster yang diurus oleh BPN. Bahkan, untuk proyek nasional BPN tak menarik bayaran. “Kalau waktu pengurusannya lama, mungkin karena tanahnya masih bermasalah dengan yang lain,” papar Firmansyah.

Mengenai permasalahan kadaster, Ir Yuwono MS selaku ketua panitia ikut mengungkap pendapatnya. Banyak masalah yang terjadi dalam pelaksanaan kadaster, contohnya saja tentang Ruang Terbuka Hijau (RTH). Idealnya RTH di tiap kota tiga puluh persen, namun kenyataannya RTH di Surabaya hanya mencapai sepuluh persen. “Karena itu selain BPN, kami juga mengundang perwakilan Real Estate Indonesia (REI) untuk mengisi seminar,” ujar Yuwono. Dosen Geomatika ini juga berharap agar lewat acara ini semua pihak memperoleh pencerahan dalam memperbaiki kondisi tanah di perkotaan.

Diakui Yuwono peran serta ITS dalam kadaster 2014 sangat penting. Hal ini disebabkan salah satu bidang yang dipelajari di Teknik Geomatika meliputi pertanahan. Tentunya mahasiswa jurusan tersebut sangat berperan dalam menjalankan dan mengembangkan kadaster. Selain mendukung dari segi SDM, ITS juga akan berbagi ilmu dan mengembangkan proyek-proyek yang ada dalam kadaster.

Sementara itu, peserta yang mengikuti acara ini berasal dari berbagai universitas. Acara ini pun mampu memikat perhatian para peserta. “Acaranya bagus karena dapat menambah ilmu tentang BPN yang tergolong baru untuk mahasiswa,” ujar Omen, salah satu peserta. (nrf/han)

Oleh: geomatika07 | Juni 2, 2009

Puisi Cinta Seorang Surveyor

Puisi Cinta Seorang Surveyor
IMG97051

Molodensky dan Badekas tak akan pernah mengerti
Transformasi hati yang terjadi di antara kita
Bessel pun tak sanggup merumuskan besaran a dan f
Ah …..tak sebanding dengan proyeksi cintaku

Pertama kali bayangmu jatuh tepat di benang silang hatiku
Nyata, tegak, diperbesar dengan kekuatan lensa maksimum
Bagai gelembung nivo tepat di tengah-tengah air raksa
Sudut cintaku lebih besar dari azimuth matahari

Walau jarak kita bagai reciever dan satelit saat orbit terjauh
Amplitudo gelombang hatimu berinterfensi dengan hatiku
Seindah sinyal harmonik sempurna tanpa multipath
Bagai transfer data dengan kecepatan angular tak terbatas

Ketinggian cintaku tak terimbas pasang surut air laut
Kedalaman cintaku tak terukur echosounder
Kontur cintaku tak tergambar software apapun
Profil cintaku membentang sepanjang garis pantai

Ruang tiga dimensi tak mampu memformulasikan matrik cinta kita
Aturan segitiga bola tak dapat menjelaskan sudut-sudut cinta kita
Deret Furier tak bisa menguraikan persamaan cinta kita
Zona UTM terlalu sempit untuk memetakan luas cinta kita
Bahkan hukum perambatan kesalahan pun tak berpengaruh apa-apa

Lihat koordinat cinta kita
Sumbu cintaku tegak lurus dengan sumbu cintamu
Menjadikan cinta kita sebagai titik sekutu yang sempurna.
Takakan tergoyahkan parameter translasi atau rotasi

Inilah resultan cinta kita
Nyaris tanpa koreksi dan iterasi

Seseorang yang kembali
Cirebon, 01 Oktober 2004

Diambil dari : http://www.geomatika.its.ac.id/alumni/index.php/2007/03/12/puisi-cinta-seorang-surveyor/

Visi Administrasi Pertanahan dan Tata Ruang Menuju Cadastre 2014
(ditinjau dari Aspek Teknololgi dan Hukum)
Tanggal    :  Rabu, 27 Mei 2009
Pukul    :  08.00 – 15.30 BBWI
Tempat  :  R. Sidang Gedung Rektorat lt.3 – Kampus ITS Sukolilo, Surabaya

KeyNote Speaker :
1.Prof. Dr. Ir. Priyo Suprobo (Rektor ITS)
2.BPN I RI
3.Dirjen Tata Ruang I Dep PU
Pembicara :
1.Kanwil BPN Jatim
2.Bappeko Surabaya Jatim
3.REI Jatim

Biaya Pendaftaran :
Pemakalah
Dosen/Mahasiswa           Rp. 150.000,00
Umum            Rp. 200.000,00
Non Pemakalah
Dosen/Mahasiswa        Rp.  50.000,00
Umum            Rp. 100.000,00

Format Naskah :

1. Judul naskah singkat dan informative, naskah dilengkapi dengan abstrak. Disertai keyword
2. Font Times New Roman, 12pt. Ditulis pada kertas A4,  Spasi tunggal, justified
3. Tidak ditulis bolak-balik dalam satu halaman, panjang naskah tidak boleh melebihi sepuluh halaman. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baku.
4. Tema: “ Visi Administrasi Pertanahan dan Tata Ruang Menuju Kadaster  2014 (ditinjau dari Aspek Teknologi dan Hukum) ”.

Batas pengumpulan paper paling lambat diserahkan kepada pihak panitia pada tanggal 17 Mei 2009.
Paper dapat diserahkan kepada panitia via pos maupun via e-mail.
Via e-mail    : geodesy@its.ac.id
Via pos      : Program Studi Kampus Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan
Kampus ITS Sukolilo-Surabaya 60111

Contact Person :
- Yuwono (08123232404)
- Agung (081555651925)

Diskusi dalam Simposium Nasional “`What Can We Do For Indonesian Forest” yang menghasilkan kebijakan-kebijakan hutan Indonesia berbasis Pengideraan Jauh, antara lain :
-    Keharusan mandiri didalam citra satelit untuk pengelolaan sumber daya alam
-    Pengsosialisasian data citra dapat diakses gratis
-    Percepat ketersediaannya peta seluruh Indonesia (sekarang hanya 30% untuk skala 1:25.000)
-    Mengintensifkan seluruh hasil citra satelit yang mencakup wilayah Indonesia untuk kepentingan peta dasar nasional.
-    Perlu adanya suatu keintegralistikan dari semua pihak yang berkaitan seperti mahasiswa, dosen, pemerintah dan instansi-instansi terkait
-    Perbanyak pembuatan karya tulis tentang kehutanan untuk menciptakan inovasi baru
-    Memfokuskan pemetaan daerah-daerah terpencil
-    Peta tematik dikawasan hutan Indonesia tersedia
-    Melakukan penghijauan
-    Penambahan dan penyebaran SDM yang merata setiap daerah di Indonesia dengan disiplin ilmu GIS & remote sensing.

Oleh: geomatika07 | Februari 26, 2009

TOR Simposium Nasional

Term of Reference dari acara SIMNAS ini

tor1

tor2

Oleh: geomatika07 | Februari 16, 2009

Stereoskop

Stereoskop ialah suatu alat yang digunakan untuk dapat melihat sepasang gambar/foto secara stereoskopis.
Untuk dapat melihat sepasang foto yang saling overlap secara streoskopis tanpa bantuan perlengkapan optis, sangat dirasakan sekali kesulitannya.
Hal ini disebabkan karena :

1.    Melihat sepasang foto dari jarak yang dekat akan menyebabkan ketegangan pada otot-oto mata.
2.    Mata difokuskan pada jarak yang sangat pendek ± 15 cm dari foto yang terletak diatas meja, sedangkan pada saat itu otak kita mengamati atau melihat sudut paralaktis dengan tujuan dapat membentuk stereo model pada suatu jarak atau kedalaman.

Keadaaan yang demikian sangat mengacaukan pandangan stereoskop.
Karena kesukaran-kesukaran itulah diperlukan suatu stereoskop untuk membantu kita dalam pengamatan.
Ada 2 jenis stereoskop, yaitu :
1.    Stereoskop saku atau stereoskop lensa
-    Lebih murah daripada stereoskp cermin
-    Cukup kecil hingga dapat dimasukkan kedalam saku
-    Terdiri dari susunan lensa convex yang sederhana
-    Mempunyai factor perbesaran yang cukup besar
-    Mudah dibawa ke lapangan
-    Daerah yang dpat dilihat secara stereoskopis sangat terbatas
streoskop-saku

2.    Stereoskop cermin
-    Lebih besar dari stereoskop saku
-    Daerah yang dapat dilihat secara stereoskop lebih luas jika dibandingkan dengan menggunakan stereoskop lensa
-    Karena bentuknya agak besar maka agak lebih sukar dibawa ke lapangan

streoskop-cermin

–> download pdf  interpretasi-foto-udara

Oleh: geomatika07 | Februari 16, 2009

Interpretasi Foto Udara

Fotogrametri dapat didefinisikan sebagai suatu seni, pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh data dan informasi tentang suatu objek serta keadaan disekitarnya melalui suatu proses pencatatan, pengukuran dan interpretasi bayangan fotografis (hasil pemotretan). Salah satu bagian dari pekerjaan fotogrametri adalah interpretasi foto udara. Oleh karena itu dengan adanya praktikum tentang interpretasi foto udara  dan pembuatan peta tutupan lahan kali ini diharapkan mahasiswa Program Studi Teknik Geodesi mampu melakukan interpretasi foto udara dengan menggunakan prinsip-prinsip interpretasi yang benar serta dilanjutkan dengan pembuatan peta tutupan lahan. Adapun prinsip yang digunakan dalam interpretasi foto terdiri dari 7 (tujuh) kunci interpretasi yang meliputi : bentuk, ukuran, pola, rona, bayangan, tekstur, dan lokasi. Dengan beracuan pada 7 (tujuh) kunci tersebut maka kita dapat mengidentifikasi dengan jelas objek yang sebenarnya.

Interpretasi foto udara merupakan kegiatan menganalisa citra foto udara dengan maksud untuk mengidentifikasi dan menilai objek pada citra tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip interpretasi. Interpretasi foto merupakan salah satu dari macam pekerjaan fotogrametri yang ada sekarang ini. Interpretasi foto termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan pengenalan dan identifikasi suatu objek.
Dengan kata lain interpretasi foto merupakan kegiatan yang mempelajari bayangan foto secara sistematis untuk tujuan identifikasi atau penafsiran objek.
Interpretasi foto biasanya meliputi penentuan lokasi relatif dan luas bentangan. Interpretasi akan dilakukan berdasarkan kajian dari objek-objek yang tampak pada foto udara. Keberhasilan dalam interpretasi foto udara akan bervariasi sesuai dengan latihan dan pengalaman penafsir, kondisi objek yang diinterpretasi, dan kualitas foto yang digunakan. Penafsiran foto udara banyak digunakan  oleh berbagai disiplin ilmu dalam memperoleh informasi yang digunakan. Aplikasi fotogrametri sangat bermanfaat diberbagai bidang  Untuk memperoleh jenis-jenis informasi spasial diatas dilakukan dengan teknik interpretasi foto/citra,sedang referensi geografinya  diperoleh dengan cara fotogrametri. Interpretasi foto/citra dapat dilakukan dengan cara konvensional atau dengan bantuan komputer.Salah satu alat yang dapat digunakan dalam interpretasi konvensional adalah stereoskop dan alat pengamatan paralaks yakni paralaks bar.
Didalam menginterpretasikan suatu foto udara diperlukan pertimbangan pada karakteristik dasar citra foto udara.Dan dapat dilakukan dengan dua cara yakni cara visual atau manual dan pendekatan digital.Keduanya mempunyai prinsip yang hampir sama. Pada cara digital hal yang diupayakan antara lain agar interpretasi lebih pasti dengan memperlakukan data secara kuantitatif. Pendekatan secara digital mendasarkan pada nilai spektral perpixel dimana tingkat abstraksinya lebih rendah dibandingkan dengan cara manual. Dalam melakukan interpretasi  suatu objek atau fenomena digunakan sejumlah  kunci dasar interpretasi atau elemen dasar interpretasi. Dengan karakteristik dasar citra foto dapat membantu serta membedakan penafsiran objek – objek yang tampak pada foto udara. Berikut tujuh karakteristik dasar citra foto yaitu :

Bentuk
Bentuk berkaitan dengan bentuk umum, konfigurasi atau kerangka suatu objek individual. Bentuk agaknya merupakan faktor tunggal yang paling penting dalam pengenalan objek pada citrta foto.
Ukuran
Ukuran objek pada foto akan bervariasi sesuai denagn skala foto. Objek dapat disalahtafsirkan apabila ukurannya tidak dinilai dengan cermat.
Pola
Pola berkaitan susunan keruangan objek. Pengulangan bentuk umum tertentu atau keterkaitan merupakan karakteristik banyak objek, baik alamiah maupun buatan manusia, dan membentuk pola objek yang dapat membantu penafsir foto dalam mengenalinya.
Rona
Rona mencerminkan warna atau tingkat kegelapan gambar pada foto.ini berkaitan dengan pantulan sinar oleh objek.
Bayangan
Bayangan penting bagi penafsir foto karena bentuk atau kerangka bayangan menghasilkan suatu profil pandangan objek yang dapat membantu dalam interpretasi, tetapi objek dalam bayangan memantulkan sinar sedikit dan sukar untuk dikenali pada foto, yang bersifat menyulitkan dalam interpretasi.
Tekstur
Tekstur ialah frekuensi perubahan rona dalam citra foto. Tekstur dihasilkan oleh susunan satuan kenampakan yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali secara individual dengan jelas pada foto. Tekstur merupakan hasil bentuk, ukuran, pola, bayangan dan rona individual. Apabila skala foto diperkecil maka tekstur suatu objek menjadi semakin halus dan bahkan tidak tampak.
Lokasi
Lokasi objek dalam hubungannya dengan kenampakan lain sangat bermanfaat dalam identifikasi.

Indonesia dikenal sebagai sebuah negara yang memiliki hutan tropik terluas ketiga di dunia, dengan ekosistem hutan,  flora dan fauna yang beragam serta merupakan sumber daya yang mempunyai peranan sangat penting untuk menunjang keseimbangan ekosistem alam. Namun seiring dengan pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi nasional, tekanan terhadap sumber daya hutan semakin meningkat.  Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat deforestasi di negara ini.  Apabila hal tersebut tidak segera ditindak lanjuti, maka diperkirakan jumlah hutan di Indonesia tidak dapat mencukupi kebutuhan negara dalam kurun waktu 20 tahun mendatang.
Dengan dilaksanaannya kegiatan simposium nasional  ini, diharapkan dapat mempertemukan tenaga- tenaga ahli Geomatika (Geodesi) maupun disiplin ilmu lain, instansi-instansi terkait serta masyarakat umum sehingga diperoleh  kesepakatan maupun kerjasama antara berbagai pihak demi meningkatkan sistem penyediaan data dan strategi pengelolaan hutan yang ideal secara berkelanjutan, serta diharapkan mampu meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa ini untuk  mempertahankan produktivitas hutan dalam jangka panjang sehingga dapat memberikan manfaat bagi bangsa dan Negara.

TUJUAN
1.    Mengidentifikasi besarnya potensi dan ancaman-ancaman deforestasi sumber daya hutan yang dimiliki Indonesia.
2.    Sebagai fasilitator terjadinya komunikasi dan kerjasama dari semua pihak dalam usaha penyusunan arah kebijakan pengelolaan hutan yang ideal
3.    Tercetusnya  ide dan konsep pemikiran tentang teknologi  penyediaaan data, system pemantauan dan strategi baru pengelolaan hutan serta ekosistem yang ada didalamnya
4.    Menumbuhkan kesadaran masyarakat, bangsa dan negara tentang pentingnya menjaga dan melestarikan hutan

PELAKSANAAN
Hari/tanggal : Selasa, 24 Maret 2009
Pukul                : 08.00 s.d 16.30 BBWI
Tempat            : Ruang Sidang Pascasarjana Lt.3
Kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Sukolilo, Surabaya – Jawa Timur

KEYNOTE SPEAKER :
H.M.S. Kaban, SE,M.Si (Menteri Kehutanan  Indonesia)*

PEMBICARA     :
1.    PProf. Dr. Aris Poniman (Kepala Deputi Bidang Survei Sumber Daya Alam BAKOSURTANAL)
2.    IIr. Nur Hidayat, Dipl.Ing ( Kepala Deputi Bidang Penginderaan Jauh LAPAN)
3.    PPof. Dr. Ir. Bangun MS,DEA (Dosen Teknik Geomatika dan Pakar Inderaja ITS)
4.    DIr. Mubariq Ahmad (CEO WWF Indonesia)*

*dalam konfirmasi

Biaya Pendaftaran :
PESERTA
Non PEMAKALAH

1.    Dosen/Mahasiswa           Rp. 60.000,00

2.    Umum                                  Rp. 75.000,00

PEMAKALAH
1.    Dosen/Mahasiswa           Rp.  150.000,00

2.    Umum                                  Rp. 200.000,00

Biaya pendaftaran dapat dikirimkan ke BNI 46 Kantor Cabang Urip Sumoharjo Surabaya
a.n Feny Arafah
No. Rekening 0131652719

Oleh: geomatika07 | Nopember 23, 2008

Into Geografi

Geografi adalah ilmu tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas permukaan bumi. Kata geografi berasal dari Bahasa Yunani yaitu (”Bumi”) dan graphein (”menulis”, atau “menjelaskan”).

Geografi juga merupakan nama judul buku bersejarah pada subyek ini, yang terkenal adalah Geographia tulisan Klaudios Ptolemaios (abad kedua).

Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Geografi tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, kadang diartikan dengan “lokasi pada ruang.” Geografi mempelajari hal ini, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.

Sejarah Geografi

Bangsa Yunani adalah bangsa yang pertama dikenal secara aktif menjelajahi geografi sebagai ilmu dan filosofi, dengan pemikir utamanya Thales dari Miletus, Herodotus, Eratosthenes, Hipparchus, Aristotle, Dicaearchus dari Messana, Strabo, dan Ptolemy. Bangsa Romawi memberi sumbangan pada pemetaan karena mereka banyak menjelajahi negeri dan menambahkan teknik baru. Salah satu tekniknya adalah periplus, deskripsi pada pelabuhan dan daratan sepanjang garis pantai yang bisa dilihat pelaut di lepas pantai; contoh pertamanya adalah Hanno sang Navigator dari Carthaginia dan satu lagi dari Laut Erythraea, keduanya selamat di laut menggunakan teknik periplus dengan mengenali garis pantai laut Merah dan Teluk Persi.

Pada Jaman Pertengahan, bangsa Arab seperti al-Idrisi, Ibnu Battuta dan Ibnu Khaldun memelihara dan terus membangun warisan bangsa Yunani dan Romawi. Dengan perjalanan Marco Polo, geografi menyebar ke seluruh Eropa. Selama jaman Renaissance dan pada abad ke-16 dan 17 banyak perjalanan besar dilakukan untuk mencari landasan teoritis dan detil yang lebih akurat. Geographia Generalis oleh Bernhardus Varenius dan peta dunia Gerardus Mercator adalah contoh terbesar.

Setelah abad ke-18 geografi mulai dikenal sebagai disiplin ilmu yang lengkap dan menjadi bagian dari kurikulum di universitas di Eropa (terutama di Paris dan Berlin), tetapi tidak di Inggris dimana geografi hanya diajarkan sebagai sub-disiplin dari ilmu lain. Salah satu karya besar jaman ini adalah Kosmos: sketsa deskripsi fisik Alam Semesta, oleh Alexander vom Humboldt.

Selama lebih dari dua abad kuantitas pengetahuan dan perangkat pembantu banyak ditemukan. Terdapat hubungan yang kuat antara geografi dengan geologi dan botani, juga ekonomi, sosiologi dan demografi.

Di barat, selama abad ke-20, disiplin ilmu geografi melewati empat fase utama: determinisme lingkungan, geografi regional, revolusi kuantitatif dan geografi kritis.

Determinisme lingkungan adalah teori yang menyatakan bahwa karakteristik manusia dan budayanya disebabkan oleh lingkungan alamnya. Penganut fanatik deteriminisme lingkungan adalah Carl Ritter, Ellen Churchill Semple dan Ellsworth Huntington. Hipotesis terkenalnya adalah “iklim yang panas menyebabkan masyarakat di daerah tropis menjadi malas” dan “banyaknya perubahan pada tekanan udara pada daerah lintang sedang membuat orangnya lebih cerdas”. Ahli geografi determinisme lingkungan mencoba membuat studi itu menjadi teori yang berpengaruh. Sekitar tahun 1930-an pemikiran ini banyak ditentang karena tidak mempunyai landasan dan terlalu mudahnya membuat generalisasi (bahkan lebih sering memaksa). Determinisme lingkungan banyak membuat malu geografer kontemporer, dan menyebabkan sikap skeptis di kalangan geografer dengan klaim alam adalah penyebab utama budaya (seperti teori Jared Diamond).

Geografi regional menegaskan kembali topik bahasan geografi pada ruang dan tempat. Ahli geografi regional memfokuskan pada pengumpulan informasi deskriptif tentang suatu tempat, juga metode yang sesuai untuk membagi bumi menjadi beberapa wilayah atau region. Basis filosofi kajian ini diperkenalkan oleh Richard Hartshorne.

Revolusi kuantitatif adalah usaha geografi untuk mengukuhkan dirinya sebagai ilmu (sains), pada masa kebangkitan interes pada sains setelah peluncuran Sputnik. Revolusioner kuantitatif, sering disebut “kadet angkasa”, menyatakan bahwa kegunaan geografi adalah untuk menguji kesepakatan umum tentang pengaturan keruangan suatu fenomena. Mereka mengadopsi filosofi positifisme dari ilmu alam dan dengan menggunakan matematika – terutama statistika – sebagai cara untuk menguji hipotesis. Revolusi kuantitatif merupakan landasan utama pengembangan Sistem Informasi Geografis.

Walaupun pendekatan positifisme dan pos-positifisme tetap menjadi hal yang penting dalam geografi, tetapi kemudian geografi kritis muncul sebagai kritik atas positifisme. Yang pertama adalah munculnya geografi manusia. Dengan latar belakang filosofi eksistensialisme dan fenomenologi, ahli geografi manusia (seperti Yi-Fu Tuan) memfokuskan pada peran manusia dan hubungannya dengan tempat. Pengaruh lainnya adalah geografi marxis, yang menerapkan teori sosial Karl Marx dan pengikutnya pada geografi fenomena. David Harvey dan Richard Peet merupakan geografer marxis yang terkenal. Geografi feminis, seperti pada namanya, menggunakan ide dari feminisme pada konteks geografis. Arus terakhir dari geografi kritis adalah geografi pos-modernis, yang mengambil ide teori pos-modernis dan pos-strukturalis untuk menjelajahi konstruksi sosial dari hubungan keruangan.


diambil dari modul geografi (wikipedia)

Oleh: geomatika07 | September 7, 2008

Kesalahan dalam pengukuran ; waterpass

Kesalahan Dalam Pengukuran
Dalam melakukan pengukuran kemungkinan terjadi kesalahan pastilah ada, dimana sumber kesalahan atau permasalahan tersebut, antara lain :
a.    Kesalahan yang bersumber dari pengukur
Kurangnya ketelitian mata dalam pembacaan alat waterpass, yaitu pembacaan benang atas, benang bawah, dan benang tengah.
Adanya emosi dari pengukur akibat rasa lapar sehingga tergesa-gesa dalam melakukan pengukuran dan akhirnya terjadi kesalahan mencatat.

b.    Kesalahan yang bersumber dari alat
Pita ukur yang sering dipakai mempunyai tendensi panjangnya akan berubah, apalagi jika menariknya terlalu kuat. Sehingga panjang pita ukur tidak betul atau tidak memenuhi standar lagi.
Patahnya pita ukur akibat terlalu kencangnya menarik pita ukur, sehingga panjang pita ukur bergeser (berkurang)

c.    Kesalahan yang bersumber dari alam.
Adanya angin yang membuat rambu ukur terkena hembusan angin, sehingga tidak dapat berdiri dengan tegak.
Angin yang merupakan faktor alam, membuat pita ukur menjadi susah diluruskan, sehingga jarak yang didapatkan menjadi lebih panjang daripada jarak sebenarnya.

Tulisan Sebelumnya »

Kategori